Senin, 02 Desember 2013

Filled Under:

ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH



A. Aqidah Imam Hanafidalamkitabfiqh al absath


Dalam Kitab al-Fiqh al-Absath bahwa beliau (Imam Abu Hanifah) berkata:

Allah ada tanpa permulaan dan tanpatempat, Dia ada sebelum menciptakan segala makhluk, Dia ada sebelum adatempat, sebelum segala ciptaan, sebelum segala sesuatu ”.



Dialah yang mengadakan/menciptakan segala sesuatu dari tidak ada, oleh karenanya maka tempat dan arah itu bukan sesuatu yang qadim (artinya keduanya adalah makhluk/ciptaan Allah).



Dalam catatan Imam Abu Hanifah ini terdapat 2 pemahaman penting:



Terdapat argumen bahwa seandainya Allah berada pada tempat dan arah maka berarti tempat dan arah tersebut adalah sesuatu yang qadim (tidak memiliki permulaan), juga berarti bahwa Allah adalah benda (memiliki bentuk dan ukuran).



Karena pengertian “tempat” adalah sesuatu/ruangkosong yang diwadahi oleh benda, dan pengertian “arah” adalah puncak/akhir penghabisan dari tujuan suatu isyarat dan tujuan dari sesuatu yang bergerak.



Dengan demikian maka arah dan tempat ini hanya berlaku bagi sesuatu yang merupakan benda dan yang memiliki bentuk dan ukuran saja; dan ini adalah perkara mustahil atas Allah (artinya Allah bukan benda) sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan yang lalu.



Oleh karena itulah beliau (Imam Abu Hanifah berkata: “Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum menciptakan segala makhluk, Dia ada sebelum ada tempat, sebelum segala ciptaan, sebelum segala sesuatupun”.



Sementaraapa yang disangkakan oleh IbnTaimiyah bahwa arsy adalah sesuatu yang qadim (tidakbermula) adalah pendapat SESAT, sebagaimana kesesatan ini telah dijelaskan dalam Kitab Syarh al-Aqa’id al-’Adludliyyah.



Sebagai jawaban bahwa Allah tidakdikatakan di dalamalam adalah oleh karena mustahil Allah berada di dalam esuatu yang notabene makhluk-Nya.



Dan bahwa Allah tidak dikatakan di luar alam adalah oleh karena Allah ada (tanpa permulaan) sebelum adanya segala makhluk, dan Dia ada sebelum adanya segalat empat dan arah.



Karena itulah beliau (Imam Abu Hanifah berkata: “Dia (Allah) adalah Pencipta segala sesuatu”.



Keterangan:

Kitab ini berjudul Isyarat al-Maram Min ‘Ibarat al-Imam adalah karya Imam al-Bayyadli.Isinya adalah penjelasan aqidah yang diyakini oleh Imam Abu Hanifah sesuai risalah2 yang ditulis oleh Imam Abu Hanifah sendiri.



Ibnu katsir membungkam wahhaby (2) :Tafsir ayat “istiwa”



Bagaimana caraulama ahlisunnah waljamaah dalam memahami masalah asmawasifat atau yang sering di sebut dngan ayat-ayatdan hadit-haditst sifat..?



ayat-ayat sifat disin adalah ayatAlquran atau HaditsNabi yang menyebutkan tentang anggota tubuh seperti mata, tangan, naik turun yang di sandarkan kepada Allah dll yang jika salah dalam memahamimya seseorang bisa masuk dalam kesesatan aqidah mujassimah(yang megatakan bahwa Allah SWT mempunyai aggota badan yang menyerupai dengan hambanya).



Atau akan terjerumus dalam ta’thil (yang menolak sifat-sifat Allah SWT ). Begitu penting dan bahaya permasalahan ini maka ulama benar-benar telah membahasnya dengan detail dan rinci agar ummat ini tidak salah dalam memahami ayat –ayat dan hadits-hadits sifat .



Ada dua cara yang di ambil oleh ulama ahlisunnahwaljamaah dalam memahami ayat-ayat sifat ini :



Pertama adalah tafwidh, maksudnuya menyerahkan pemahaman makna tersebut kepada Allah SWT karena khawatir jika di faham isesuai dhohir lafatnya akan merusak aqidah.



Misalnya disaat Allah menyebut tangan yang di nisbatkan kepada Allah, maka maknanya tidak di bahasakan tetapi diserahkan kepada Allah SWT.



Ibnu katsir adalah salah satu ulama yang menggunakan methode ini.



Kedua adalah dengan cara mentakwili ayat tersebut dengan makna yang ada melalui dalil lain.



Seperti tangan Allah di artikan dengan kekuasaan Allah yang memang makna kekuasaan itu sendiri di tetapkan dengan dalil yang pasti dari Alquran dan hadits.



Perhatian

1-Dua cara ini yakni attafwid dan attakwil inilah yang di ambil oleh ulama salaf dan kholaf, sungguh tidak benar jika tafwid adalah metode yang di ambil oleh ulama salaf dan ta’wil adalah yang di ambil oleh ulama kholaf saja.



2-Ada sekelompok orang di akhir zaman ini menfitnah paraulama terdahulu(salaf) dan menyebut mereka sebagai ahli bidah dan sesat karena telah mentakwili ayat-ayat sifat ini. maka kelompok yang membid’ahkan ulama terdahulu karena takwil, sungguh mereka adalah orang –orang yang tidak mengerti bagaimana mentakwil dan mereka juga tidak kenal dengan benar dengan ulama terdahulu karena banyak riwayat ta’wil yang datang dari para ulama salaf..



3-ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka sebagai ahli tafwid akan tetapi telah terjerumus dalam kesesatan takwil yang tidak mereka sadari.misalnya disaat mereka mengatakan bahwa Allah berada di atas ‘arsy, mereka mengatakan tidak bolehaya tentang keberadaan Allah di arsy ini di ta’wili. akan tetapi dengan tidak di sadari mereka menjelaskan keberadan Allah di arsy dengan penjelasan bahwa arsy adalah makhluq terbesar (seperti bola dan semua makhluk yang lain di dalamnya. kemudian mereka mengatak keberadaan Allah swt berada di atas Arsy yang besar itu, di tempat yang namanya makan ‘adami (tempat yang tidak ada).



Lihat darimana mereka mengatakan ini semua.Itu adalah takwi lfasid dan ba’id, takwil salah mereka yang jauh dari kebenaran.

Adapun ulama ahli kebenaran, ayat tentang Allah dan arsy, para ahlitafwid menyerahkan pemahaman maknanya kepada Allah swt, adapun ahli ta’wil mengatakan Allah menguasai Arsy dan tidaklah salah karena memang Allah dzat yang maha kuasa terhadap makhlukcbernama Arsy, sebab memang Allah maha kuasa terhadap segala sesuatu.





wallohu a’lam bish showab

2 komentar:

  1. Good info for education islamic bro

    BalasHapus
  2. Judulnya saja sangat fenomenal,, ada tanpa tempat dan tanpa arah,,

    Tanpa tempat artinya zero volume atau Kosong

    Tanpa arah artinya diam atau tidak bergerak

    Mirip prinsipnya Guru Tong,,

    Kosong adalah berisi
    Berisi adalah kosong

    BalasHapus

Copyright @ 2013 Islamic.