Sabtu, 23 November 2013

Fatwa mengenai Bedah Mayat

Segala puji bagi Allah saja dan shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi terakhir Muhammad صلى الله عليه وسلم dan keluarga serta para pengikutnya.

Amma ba’du,

Majlis di Majma’ Fikih Islami dibawah Rabithah al-Alam al-lslami (Liga Muslim Dunia) dalam muktamarnya kesepuluh yang diadakan di Makkah Mukarramah dalam waktu dari hari Sabtu, 24 Shafar 1408 H atau 17 Oktober 1987 M sampai hari Rabu, 28 Shafar 1408 H atau 21 Oktober 1987 M telah meneliti permasalahan pembedahan mayat, dan setelah diskusi dan tukar pendapat memutuskan ketetapan sebagai berikut:

Berdasarkan dharurat yang dibutuhkan dalam pembedahan mayat dan pembedahan ini menjadi mashlahat yang mengalahkan mafsadat pelanggaran kemuliaan mayat manusia.

Majlis Majma’ fikih Islami dibawah lembaga Rabithah al-Alam al-lslami (Liga Muslim Dunia) menetapkan sebagai berikut:

Pertama, boleh membedah mayat untuk satu diantara tujuan berikut:
  1. Otopsi (penelitian) dalam tuduhan pembunuhan (kriminal) untuk mengetahui sebab kematian atau kriminal yang terjadi. Hal itu jika hakim (al-Qadhi) tidak bisa menetapkan secara pasti sebab kematian, dan nampak jelas pembedahan terhadap mayit adalah cara untuk mengetahui sebab-sebab tersebut.
  2. Penelitian penyakit yang menuntut adanya pembedahan untuk dijadikan sebagai bahan terapi pencegahan dan terapi pengobatan yang tepat sesuai dengan penyakit tersebut.
  3. Pendidikan medis dan pembelajarannya sebagaimana terdapat dalam kuliah kedokteran.
Kedua, keputusan tentang pembedahan untuk tujuan pembelajaran harus memperhatikan batasan-batasan berikut:
  1. Apabila jenazah itu dikenal, maka pembedahan boleh dilakukan dengan syarat sudah mendapatkan ijin dari orang tersebut sejak sebelum matinya atau mendapatkan ijin dari ahli warisnya sepeninggal orang tersebut. Tidak selayaknya membedah mayat yang jiwanya dilindungi syariat kecuali dalam keadaan darurat.
  2. Wajib membatasi pembedahan pada batas darurat saja agar tidak mempermainkan tubuh mayat tersebut secara sia-sia.
  3. Tubuh mayat wanita tidak boleh dilakukan pembedahan kecuali oleh dokter-dokter wanita kecuali apabila tidak ada.
Ketiga, pada semua keadaan ini, anggota tubuh yang sudah dibedah diwajibkan untuk dikuburkan.

Semoga shalawat dan salam yang banyak dilimpahkan kepada Sayyidina Muhammad dan keluarga serta para pengikutnya.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

Untuk lebih lengkapnya silahkan sobat muslim download ebooknya DISINI

Buah-Buah yang Indah Mengikuti Sunnah


Ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم merupakan perkara yang besar dan agung yang membutuhkan bukti dan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Allah Subhanahu telah memerintahkan setiap muslim agar me-ngambil apa yang diperintahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan meninggalkan apa yang beliau larang darinya. Demikian juga Allah menyatakan bahwa barangsiapa yang menaati Rasul berarti ia telah menaati Allah.

Begitu banyak nash-nash yang menunjukkan bagaimana semestinya sikap seorang muslim menempatkan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yaitu wajib mengambilnya dan menjadikan sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah dan melakukan ketaatan kepada Allah عزّوجلّ.

Ketahuilah! Siapa saja dari umat Rasulullah صلى الله عليه وسلم, yang berupaya untuk senantiasa mengikuti dan menaati beliau عزّوجلّ dengan ikhlas serta menjadikan-nya sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari, maka sungguh ia akan mendapatkan sekian banyak keutamaan yang dijanjikan oleh Allah عزّوجلّ dan Rasul-Nya.

Insya Allah, di dalam bahasan kali ini akan kami sebutkan sebagian keutamaan-keutamaan ittiba’ kepada sunnah.

Selamat menyimak…

Untuk lebih lengkapnya silahkan sobat muslim download ebooknya DISINI

Copyright @ 2013 Islamic.