Sabtu, 30 November 2013

ANJURAN BERDZIKIR



Mendapatkan pujian dan surga bagi para pendzikir..Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Al-Ahzab, 33:35:

إن المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات والقانتين والقانتات والصادقين والصادقات والصابرين والصابرات والخاشعين والخاشعات والمتصدقين والمتصدقات والصائمين والصائمات والحافظين فروجهم والحافظات والذاكرين الله كثيرا والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunandan pahala yang besar."



Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman -dalam hadits qudsi: “Aku adalah menurut sangkaan -keyakinan- hambaKu kepadaKu. Aku adalah beserta hambaKu itu apabila ia berdzikir -ingat- kepadaKu. Maka jikalau ia berdzikir kepadaKu dalam dirinya, maka Akupun ingat padanya dalam diriKu dan jikalau ia berdzikir kepadaKu di kalangan orang banyak, maka Aku ingat pada orang itu di kalangan makhluk yang lebih baik dari mereka itu -yakni di kalangan para malaikat.” (Muttafaq ‘alaih)



Adapun dalam hadits, terdapat beberapa riwayat yang mengungkapkan keutamaan majalis dzikr, diantaranya adalah:

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ ،قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ"

"Dari Abu Sa'id al-Khudzri ra, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah sekelompok orang duduk dan berdzikir kepada Allah, melainkan mereka akan dikelilingi para malaikat, mendapatkan limpahan rahmat, diberikan ketenangan hati, dan Allah pun akan memuji mereka pada orang yang ada di dekat-Nya." (HR. Muslim)



Dalam hadits lain, Rasulullah SAW mengatakan:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ :سَيَعْلَمُ أَهْلُ الْجَمْعِ مِنْ أَهْلِ الْكِرَمِ، فَقِيْلَ مَنْ أَهْلُ الْكِرَمِ يَا رَسُوْلُ اللهِ؟، قَالَ مَجَالِسُ الذِّكْرِ فِيْ الْمَسَاجِدِ. (رواه أحمد)

"Dari Abu Sa'id al-Khudzri ra, Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT berfirman pada hari kiamat, 'orang-orang yang berkumpul akan mengetahui siapakah mereka yang termasuk ahlul karam (orang yang mulia)', seorang sahabat bertanya, siapakah ahlul kiram ya Rasulullah SAW?, beliau menjawab, "majlis-majlis dzikir di masid-masjid." (HR. Ahmad)



Dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا، قَالُوْا وَمَا رِياَضُ الْجَنَّةِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟،قَالَ حَلَقُ الذِّكْرِ، فَإِنَّ لِلَّهِ تَعَالىَ سَيَّارَاتٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يَطْلُبُوْنَ حَلَقَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوْا بِهِمْ. (رواه أحمد والترمذي والبيهقي)

Dari ibnu Umar ra, Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kalian melalui taman-taman surga, maka kelilingilah ia." Sahabat bertanya, "apakah taman-taman surga wahai Rasulullah SAW?", beliau menjawab, "yaitu halaqoh-halaqoh dzikir, karena sesungguhnya Allah memiliki pasukan-pasukan dari malaikat, yangmencari halaqoh-halaqoh dzikir, yang apabila mereka menjumpainya, mareka akan mengelilinginya." (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Baihaqi)

PROBLEMATIKA BID'AH




KAJIAN TERHADAP DALIL DAN ARGUMEN PENDUKUNG SERTA PENOLAK ADANYA BID'AH HASANAH




Kata Bid'ah dalam Dunia Islam merupakan lawan kata sunnah, Bid'ah dikatakan oleh Abu Muhammad 'Izzudin Bin Abdussalam Sebagai, "Fil'un Ma lam yu'had fi 'ashri rasulillahi sholallohu 'alaihi wa salam ". Mengerjakan sesuatu yang tidak pernah di kenal (tidak pernah terjadi) pada masa Rosulullohi SAW. Sedangkan kata Sunnah didefinisikan sebagai, "Al Thariqoh al maslukah fi al din bi an salakaha Rosulallohi sholallohu alaihi wassalam aw al-salaf al-sholih min ba'dihi" (jalan yang dijalani dalam agama karena biasa dijalani oleh Rosululloh dan orang orang terdahulu yang sholeh. setelah Rosululloh SAW wafat).





Perdebatan yang sering terjadi di kalangan masyarakat mengenai konsep bid‟ah dan penilaian terhadap

suatu perbuatan itu, temasuk bid‟ah atau tidak? Apakah setiap bid‟ah itu pasti sesat ataukah ada bid‟ah yang

khasanah, yang pada umumnya masyarakat masih belum banyak mengetahui persoalan mendasar yang harus

menjadi pegangan? Boleh jadi, hal ini dikarenakan mereka belum memahami secara utuh dasar normatif

konsep bid‟ah itu sendiri dan beberapa pendapat ulama serta argumen masing-masing. Kebanyakan

masyarakat hanya mengetahui secara parsial, maksudnya hanya mengetahui/membaca satu pendapat dan

argumen yang sesuai, membenarkan amaliah mereka sendiri tanpa memperhatikan, dan memahami pendapat

lain yang sesungguhnya juga berdasarkan dalil-dalil dari sumber yang sama.

Salah satu isu besar yang mengancam persatuan dan kesatuan umat Islam adalah isu bid‟ah. Akhir-akhir

ini, kata bid‟ah sering terdengar, dan digunakan untuk memberi label saudara-saudara yang seiman (sesama

muslim) sehingga sebagian umat Islam mengklaim saudara yang seiman sebagai kelompok sesat (ahli bid‟ah).

Oleh karena aliran sesat, maka harus segera dicarikan jalan untuk memberantasnya atau bahkan





menyingkirkannya. Sementara itu, sebagian umat Islam lainnya toleran terhadap kelompok yang dianggap

sesat itu. Bagi kelompok yang dituduh sesat tentu merasa sakit hati, bahkan marah-marah karena dirinya

dianggap sesat oleh saudaranya yang seiman.

Kasus yang mudah kita cermati, misalnya maraknya umat Islam yang saling bermusuhan dan saling

mencurigai sesama mereka dengan menggunakan isu bid‟ah. Yakni antara kelompok Ahlussunnah,

Mu‟tazilah, Khawarij, dan Murji‟ah, antara NU dan Muhammadiyah, antara aliran Salafi, Wahabi, Ahmadiyah

dengan aliran-aliran lainnya. Dalam beberapa aktivitas ibadah maupun sosial, mereka saling mengklaim

aktivitas masing-masing sebagai yang paling benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Di Pakistan, Irak, dan Iran,

misalnya, isu bid‟ah telah menyulut perang saudara berdarah antarumat Islam.

Mengkaji isu bid‟ah sudah barang tentu akan bersinggungan dengan dasar yuridis, etis-filosofis, dan

sosiologis-antropologis dari konsep bid‟ah yang harus dicari sandaran hukumnya (normatif) dalam al-Qur‟an,

terutama dari al-Sunnah, dan beberapa pendapat ulama terkait dengan bid‟ah. Tulisan ini mencoba

memaparkan, dan menelaah landasan hukum normatif konsep bid‟ah dan beberapa pandangan ulama beserta

argumen masing-masing melalui pendekatan kebahasaan.

Permasalahan interpretasi konsep bid‟ah, adakah bid‟ah hasanah dan batas-batas perbedaan bid‟ah dengan

sunnah secara tegas dalam kitab-kitab Hadis, tafsir, maupun kitab fiqih. Menurut pengamatan peneliti masih






Copyright @ 2013 Islamic.